Review Pertama Buku Filsafat Ilmu
Nama = Hestiria Fujiani
NIM/Kelas = 203070102002/B
Mata Kuliah = Filsafat Ilmu
Jurusan = Ilmu Administrasi Negara
1. Review Pertama Buku Filsafat Ilmu
|
Identitas
Buku Filsafat Ilmu |
|||
|
Judul |
: |
Filsafat Ilmu & Perkembangannya di Indonesia : Suatu Pengantar |
|
|
Cetakan |
: |
Cetakan
kedelapan, September 2018 |
|
|
Tempat Terbit |
: |
Jakarta |
|
|
Penulis |
: |
Drs.
Surajiyo |
|
|
Penerbit |
: |
PT
Bumi Aksara |
|
|
Tebal |
: |
170
hlm |
|
A.
BAB
1 COMPARE
1.1
Kesamaan
yang dilihat dalam buku
Kesamaan yang dapat dilihat dalam buku
yang berjudul Filsafat Ilmu & Perkembangannya di Indonesia : Suatu
Pengantar adalah sebagai berikut.
1)
Beberapa ahli menyampaikan bahwa
filsafat merupakan pengetahuan yang meliputi suatu kebenaran, penjelasan
tersebut dikemukakan oleh Plato, Aristoteles dan Al Farabi.
2)
Rene Descartes, Hasbullah Bakry dan
Langeveld memiliki pendapat yang sama, bahwa filsafat merupakan pengetahuan
tentang segala sesuatu yang meliputi
ketuhanan, alam, dan manusia.
3)
N. Driyarkara dan Ir. Poedjawijatna
menyatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan yang mencari sebab yang
sedalam-dalamnya.
4)
Beberapa ahli seperti, Mohammad Noor
Syam, Poedjawijatna, Dr. Oemar Amir
Hoesin, Abbas Hamami M., dan Drs. H.A. Dardiri memiliki kesamaan pendapat bahwa
objek material dari filsafat merupakan sesuatu yang ada.
5)
Louis O.Kattsoff, The Liang Gie, dan
Harry Hamersma sama-sama menyatakan bahwa cabang filsafat meliputi metafisika,
epistemologi, etika, estetika, metogologi, dan logika.
6)
Pendapat yang dikemukakan Peter
Angeles, A.Corenelius Benjamin, Marx Wartofsky, dan Ernest Nagel memiliki
kesamaan bahwa ruang lingkup filsafat ilmu berkaitan dengan pengetahuan yang
ilmiah.
7)
Menurut The Liang Gie, Cristian Wolff,
dan Auguste Comte memiliki kesamaan pendapat bahwa klasifikasi ilmu
pengetahuan, yakni adanya matematika.
8)
The Liang Gie dan Auguste Comte
sama-sama berpendapat bahwa klasifikasi ilmu pengetahuan, yaitu meliputi
ilmu-ilmu biologi dan ilmu-ilmu sosial.
9)
Anton Bakker (1984) dan Suparlan
Suhartono memiliki persamaan pendapat mengenai metode, menurut keduanya metode
bersangkutan dengan aturan tertentu.
10)
Kesamaan pendapat mengenai definisi
kebudayaan, dikemukakan oleh Sutan Takdir Alisyahbana dan Koentjaraningrat.
Menurut keduanya definisi kebudayaan mencangkup cara berfikir dan tindakan yang
dilakukan oleh manusia.
11)
A.L Kroeber dan C. Kluckhohn
menyatakan bahwa kebudayaan adalah manifestasi atau penjelmaan kerja jiwa
manusia dalam arti seluas-luasnya (Surajiyo, 2018).
B.
BAB
II CONTRAST
2.1
Ketidaksamaan
yang dilihat dalam buku
Ketidaksamaan yang dilihat dalam buku
yang berjudul Filsafat Ilmu & Perkembangannya di Indonesia : Suatu
Pengantar adalah sebagai berikut.
1)
Immanuel Kant berpendapat bahwa
filsafat mencangkup masalah epistemologi, sedangkan Notonagoro menyatakan bahwa
filsafat suatu objek dari sudut inti yang mutlak, terdalam, dan tidak berubah.
2)
Ali Mudhofir (1996) juga memiliki
perbedaan pendapat mengenai pengertian filsafat. Menurutnya arti filsafat
sangat beragam, yaitu filsafatsebagai suatu sikap, filsafat sebagai suatu
metode, filsafat sebagai kelompok persoalan, filsafat sebagai sekelompok teori
atau sistem pemikiran, filsafat sebagai analisis logis tentang bahasa dan
penjelasan makna istilah, dan filsafat merupakan usaha untuk memperoleh
pandangan yang menyeluruh. Menurut Immanuel Kant metode filsafat adalah metode
transendental. Menurut Hegel dan Marx metode filsafat yaitu, metode dialektis.
3)
Menurut Plato filsafat memiliki
predikat sebagai keinginan yang maha berharga, sedangkan menurut Alfred North
Whitehead filsafat adalah suatu kesadaran.
4)
Menurut Plato cabang filsafat adalah
dialektika, fisika, dan etika. Sedangkan menurut Aristoteles cabang filsafat
meliputi logika, filsafat teoritis, filsafat praktis dan filsafat poetika.
5)
Menurut Soejono Soemargono (1983)
pengetahuan dibagi menjadi dua macam, yaitu pengetahuan nonilmiah dan
pengetahuan ilmiah, sedangkan Immanuel Kant membedakan pengetahuan menjadi
tiga, yaitu pengetahuan analitis, pengetahuuan aposteriori, dan pengetahuan
sintetis apriori.
6)
Menurut Plato pengetahuan adalah suatu
pemikiran yang sungguh-sungguh abstrak, sedangkan menurut Aristoteles
pengetahuan adalah kenyataan yang dapat diindrai.
7)
Dalam problema filsafat ilmu B. Van
Fraassen dan H. Margenau, serta Victor Lenzen memiliki ketidaksamaan pendapat.
Menurut B. Van Fraassen dan H. Margenau ada tiga problema dalam filsafat ilmu,
yaitu metodologi, landasan ilmu-ilmu, dan ontologi. Sedangkan menurut Victor
Lenzen berpendapat bahwa problema filsafat ilmu di bagi menjadi dua macam,
yaitu struktur ilmu dan pentingnya ilmu bagi praktik dan pengetahuan tentang
realitas (The ling Gie, 2000, hlm.79).
8)
Pengertian ilmu menurut The Liang Gie
(1987) berbeda dengan pengertian ilmu menurut Bahm dalam Koento Wibisono
(1997). The Liang Gie (1987) menyatakan pengertian ilmu adalah rangkaian
aktivitas penelaahan yang mencari penjelasan suatu metode. Sedangkan menurut
Bahm dalam Koento Wibisono (1997) pengertian ilmu melibatkan enam macam
komponen, yaitu masalah, sikap, metode, aktivitas, kesimpulan , dan pengaruh.
9)
Layton memandang teknologi sebagai
pengetahuan, sedangkan Karl Mark membagi istilah teknologi menjadi tiga yaitu,
sebagai alat kerja, pengajaran praktis dari sekolah industrial, dan ilmu
tentang teknik (The Liang Gie,1982).
10)
Copernicus berpendapat bahwa bumi dan
planet semuanya mengelilingi matahari, sehingga matahari menjadi pusat. Hal
tersebut bertentangan dengan pendapat umum yang berasal dari Hipparchus dan
Ptolomeus menganggap bahwa bumi sebagai pusat alam semesta (Surajiyo, 2018).
11)
Ki Hajar Dewantoro menyatakan
kebudayaan adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni
alam dan zaman. Sedangkan menurut Malinowski berpendapat bahwa kebudayaan
berprinsip didasarkanpada berbagai sistem kebutuhan manusia (Surajiyo, 2018).
12)
Pengertian kebudayaan nasional menurut
KBBI adalah sebagai kebudayaan yang dianut oleh semua warga dalam suatu negara.
Sedangkan menurut Prof. Nugroho Notosusanto, kebudayaan nasional adalah
kebudayaan nasional dan kebudayaan kesatuan.
13)
Menurut Sutan Takdir Alisyahbana,
kebudayaan nasional Indonesia adalah sesuatu yang mengambil banyak unsur
kebudayaan barat. Sedangkan menurut Sanusi Pane, kebudayaan nasional Indonesia
adalah sebagai kebudayaan timur.
14)
Tokoh sosiologi, Weber menyatakan
bahwa ilmu sosial harus bebas nilai. Sedangkan tokoh lain Hebermas berpendirian
bahwa teori sebagai produk ilmiah tidak pernah bebas nilai (Surajiyo, 2018).
C.
BAB
III CRITIZE
3.1
Pandangan
Terhadap Buku
Keunggulan
buku :
Buku yang berjudul Filsafat Ilmu &
Perkembangannya di Indonesia : Suatu Pengantar ini memiliki kelebihan mengenai
penjelasan materi yang mendetail dan mudah dinalar, serta penggunaan tabel dan
diagram yang cukup menarik, membuat buku ini sangat bermanfaat untuk masyarakat
yang ingin menambah wawasan mengenai pengertian filsafat, sejarah filsafat,
metodologi, dan ilmu lainnya yang berhubungan dengan filsafat.
Kekurangan
buku :
Terlepas dari keunggulan buku yang berjudul Filsafat Ilmu & Perkembangannya di Indonesia : Suatu Pengantar, buku ini juga memiliki beberapa kekurangan, seperti penggunaan EYD yang tidak tepat dan kurang diperhatikan, serta ada beberapa kata dalam kalimat yang berulang. Hal tersebut akan membuat para pembaca kebingungan untuk memahami penjelasan materi dalam buku ini.
D.
BAB
IV SYHNTESIZE
4.1
Membandingkan
dalam Buku
Perbandingan-perbandingan di dalam
buku yang berjudul Filsafat Ilmu & Perkembangannya di Indonesia : Suatu
Pengantar adalah sebagai berikut.
1) Metode
filsafat menurut Socrates dan Plato adalah metode kritis, sedangkan menurut
Plotinus dan Bergson metode filsafat adalah metode intuitif. Kemudian menurut
Aristoteles dan Thomas Aquinas metode filsafat adalah metode skolastik.
Sedangkan menurut Hobbes, Locke, Berkeley, dan David Hume metode filsafat
adalah metode empiris.
2) Ilmu
pengetahuan menurut The Liang Gie (1987) memiliki lima ciri pokok yaitu,
empiris, sistematis, objektif, analitis, dan verifikasi. Menurut Van Malsen
(1985) ada delapan ciri yang menandai ilmu, yaitu ilmu pengetahuan secara
metodis, ilmu pengetahuan tanpa pamrih, universalitas ilmu pengetahuan, Ilmu
pengetahuan harus diverifikasi oleh semua peneliti ilmiah, progresivitas,
kritis dan ilmu pengetahuan harus dapat digunakan sebagai perwujudan
kebertautan antara teori dengan praktis.
Dalam buku ini banyak perbandingan
yang dapat ditemukan, yaitu teori-teori yang berbeda dari para ahli mengenai
metode dalam filsafat ilmu, sejarah filsafat, prinsip-prinsip yang digunakan
dalam filsafat, jenis-jenis kebenaran, pengertian penalaran, suatu etika
keilmuan, pengembangan kebudayaan nasional di Indonesia, dan lain sebagainya.
Salah satu perbandingan teori mengenai pengertian filsafat yaitu, menurut Ali
Mudhofir (1996) pengertian filsafat menurutnya sangat beragam, yaitu filsafat sebagai
suatu sikap, filsafat sebagai suatu metode, filsafat sebagai kelompok
persoalan, filsafat sebagai sekelompok teori atau sistem pemikiran, filsafat
sebagai analisis logis tentang bahasa dan penjelasan makna istilah, dan
filsafat merupakan usaha untuk memperoleh pandangan yang menyeluruh. Menurut
Immanuel Kant metode filsafat adalah metode transendental. Menurut Hegel dan
Marx metode filsafat yaitu, metode dialektis. Rene
Descartes, Hasbullah Bakry dan Langeveld berpendapat bahwa filsafat merupakan
pengetahuan tentang segala sesuatu yang meliputi ketuhanan, alam, dan manusia.
E.
BAB
V SUMMARIZE
5.1 Meringkas Isi Buku
Buku
yang berjudul Filsafat Ilmu & Perkembangannya di Indonesia : Suatu
Pengantar merupakan karangan dari Drs. Surajiyo. Dia adalah seorang dosen dari
tahun 1989 di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP), daerah Jakarta
dengan tugas mengasuh mata kuliah : Dasar-Dasar Ilmu Filsafat, Dasar-Dasar
Logika, Ilmu Budaya Dasar, dan Pancasila.
Dalam
buku ini membahas sebelas bahasan pokok, yaitu BAB 1 mengenai pengantar ilmu
filsafat, BAB 2 membahas filsafat pengetahuan (epistemologi), BAB 3 mengenai ruang
lingkup filsafat ilmu, BAB 4 mengenai ilmu pengetahuan, BAB 5 membahas tentang
sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, BAB 6 tentang prinsip-prinsip
metodologi, BAB 7 mengenai penemuan kebenaran, BAB 8 membahas tentang definisi
dan penalaran, BAB 9 membahas tentang hubungan dan peranan ilmu pengetahuan
terhadap pengembangan kebudayaan nasional, BAB 10 mengenai etika keilmuan, dan
yang terakhir BAB 11 membahas tentang strategi pengembangan ilmu di Indonesia.
BAB
1 dijelaskan mengenai pengertian filsafat secara etimologi dan terminologi.
Secara etimologi filsafat berasal dari bahasa Arab “falsafah”, bahasa Inggris
dikenal dengan philosophy yang berasal dari bahasa Yunani “philosophia” yang
berarti cinta kebijaksanaan. Secara terminologi filsafat memiliki beberapa
batasan yang teorinya dikemukakan oleh beberapa ahli, seperti Plato,
Aristoteles, Al Farabi, Rene Descartes, Hasbullah Bakry, Langeveld, N.
Driyarkara dan Ir. Poedjawijatna. Sehingga ditarik kesimpulan bahwa filsafat
adalah pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu yang ada secara mendalam
dengan mempergunakan akal sampai hakikatnya. Objek-objek filsafat meliputi
objek material filsafat dan objek formal filsafat. Kemudian ada sepuluh metode
yang disusun dari garis historis filsafat, yaitu metode kritis, metode
intuitif, metode skolastik, metode geometris, metode empiris, metode
transedental, metode fenomenologis, metode dialektis, metode neo-positivistis,
dan metode analitika bahasa. Ada tiga ciri-ciri filsafat, yaitu menyeluruh,
mendasar, dan spekulatif. Adapun asal dan peranan peranan filsafat. Pertama,
asal filsafat adalah dari keheranan para filsuf, kesangsian, dan kesadaran akan
keterbatasan. Kedua, peranan filsafat adalah sebagai pendobrak, pembebas, dan
pembimbing. Lalu, ada lima cabang filsafat yang paling utama, yaitu logika
mengenai suatu pemikiran; epistemologi mengenai terjadinya pengetahuan, sumber
pengetahuan, asal-mula pengetahuan, dan lain sebagainya yang mendasari suatu
pengetahuan; etika yang membahas tingkah laku dan perbuatan manusia; estetika
mengenai suatu keindahan; metafisika membahas tentang yang ada.
BAB
2 membahas materi tentang filsafat pengetahuan (epistemologi). Epistemologi
berasal dari kata Yunani, eoisteme dan logos. Episteme biasa diartikan
pengetahuan atau kebenaran, dan logos diartikan pikiran, kata, atau teori.
Secara etimologi dapat diartikan teori pengetahuan yang benar. Pengetahuan
adalah suatu istilah yang dipergunakan untuk menuturkan apabila seseorang
mengenal tentang sesuatu. Alat untuk mengetahui terjadinya Pengetahuan menurut
Jhon Horpers ada enam yaitu 1. Pengalaman indera, 2. Nalar, 3.
Otoritas, 4. Intuisi, 5. Wahyu, dan 6. Keyakinan. Pengetahuan
menurut Soejono Soemargono (1983) dapat dibagi atas : Pengetahuan non-ilmiah
dan Pengetahuan ilmiah. Aliran-aliran dalam Pengetahuan, yaitu a) Rasoinalisme menyatakan
bahwa sumber pengetahuan yang mencukupi dan yang dapat dipercaya adalah rasio
(akal), b) Empirisme menyatakan bahwa empiris atau pengalamanlah yang menjadi
sumber pengetahuan baik pengalaman yang batiniah maupun lahiriah, c) Kritisme
adalah penyelesaian pertentangan antara rasionalisme dan empirisme hendak
diselesaikan oleh umanuel kant dengan kritismenya, dan d) Positivisme berpangkal
dari apa yang telah di ketahui, yanng faktual dan yang positif. enurut soejono
soemargono (1983) metode ilmiah secara garis besar ada dua macam,yaitu metode
ilmiah yang bersifat umum dan metode penyelidikan ilmiah.
BAB
3 The Liang Gie mendefinisikan filsafat ilmu adalah segenap pemikiran refleksi
terhadap persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun
hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Objek material adalah
objek yang di jadikan sasaran menyelidiki oleh suatu ilmu, atau objek yang yang
di pelajari oleh ilmu itu. Objek material filsafat illmu adalah pengetahuan itu
sendiri, yaitu pengetahuan yang telah di susun secara sistematis dengan metode
ilmiah tertentu. Objek formal adalah sudut pandang dari mana sang subjek
menelaah objek materialnya. Objek formal filsafat ilmu adalah hakikat (esensi)
ilmu pengetahuan artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatian terhadap problem
mendasar ilmu pengetahuan, seperti apa hakikat ilmu pengetahuan, bagaimana cara
memperoleh kebenaran ilmiah dan apa fingsi ilmu itu bagi manusia. Salah satu
filsuf yang mengemukakan lingkupan filsafat ilmu yaitu, Ernest Nagel.
Menurutnya filsafat ilmu mencangkup tiga bidang luas, yaitu pola logis yang
ditunjukkan oleh penjelasan dalam ilmu; pembuktian konsep ilmiah; dan pembuktian
keabsahan kesimpulan ilmiah. Problema filsafat ilmu menurut The Liang Gie,
yaitu problem epistemologi, problem metafisis, problem metodologi, problem
logis, problem etis, dan problem estetis. Manfaat belajar filsafat ilmu, yaitu
sebagai sarana pengujian penalaran ilmiah sehingga menjadi kritis terhadap
kegiatan ilmiah; merupakan usaha merepleksi, menguji, mengkritik asumsi dan
metode keilmuan; dan memberikan pendasaran logis terhadap metode keilmuan.
BAB
4 ilmu pengetahuan di ambil dari bahasa inggris science, yang berasal dari
bahasa latin scientie dari bentuk kata kerja scire yang berarti mempelajari,
mengetahui. Adapun menurut Bahm defenisi ilmmu pengetahuan paling tidak
melibatkan enam macam komponen yaitu masalah, sikap, metode, aktivitas, kesimpulan
dan pengaruh. Ciri-ciri ilmu pengetahuan yaitu, empiris, sistematis, objektif, analitis,
dan verifikatif. Ilmu murni adalah ilmu yang bertujuan meraih kebenaran demi
kebenaran. Ilmu terapan adalah ilmu yang bertujuan untuk diaplikasikan atau
diambil menfaatnya. Ilmu nomotetis adalah ilmu-ilmu alam. Ilmu idiografis
adalah ilmu-ilmu budaya. Ilmu deduktif adalah suatu pemikiran dengan akal budi
manusia dari pengetahuan tentang hal-hal yang umum dan abstrak menyimpulkan
tentang hal-hal yang bersifat khusus dan individual. Ilmu induktif yaitu,
penyelesaian-penyelesaian masalah dalam ilmu yang bersangkutan didasarkan atas
pengalaman indrawi atau empiris. Ilmu-ilmu empiris secara lebih khusus menurut
Berling ada tiga, yakni ilmu alam, ilmu hayat, dan ilmu manusia. Langkah-langkah
dalam ilmu pengetahuan, yaitu perumusan masalah, dirumuskan secara tepat dan
jelas dalam bentuk pertanyaan agar ilmuwan mempunyai jalan unuttuk mengetahu
fakta-fakta apa saja yang di kumpulkan, pengamatan dan pengumpulan data (observasi), pengamatan dan klasifikasi data, perumusan
pengetahuan (defenisi), tahap ramalan (prediksi) dan pengujian kebenaran
hipotesis.
BAB
5 periode filsafat Yunani merupakan periode sangat penting dalam sejarh
peradaban manusia karena pada waktu itu terjadi perubahan pola pikir manusia
dari mite-mite menjadi yang lebih
rasional. Berikut periodisasi perkembangan ilmu yang dimulai dari peradaban
Yunani dan diakhiri pada zaman kontemporer. Zaman Pra Yunani Kuno yang masih
menggunakan batu sebagai peralatan, seperti alat-alat dari batu, tulang
belulang hewan, gambar di gua-gua, dan lain sebagainya. Zaman Yunani Kuno,
manusia memiliki kebebasan untuk menguangkapkan ide-ide atau pendapatnya. Zaman
Abad Pertengahan ditandai dengan tampilnya para teolog di lapangan ilmu
pengetahuan. Zaman Renaissance ditandai sebagai era kebangkitan kembali
pemikiran yang bebas dari dogma-dogma agama. Zaman Modern ditandai dengan
berbagai penemuan dalam bidang ilmiah. Zaman Kontemporer (abad ke-20 dan
seterusnya) ditandai dengan penemuan teknologi canggih.
BAB
6 metodologi berasal dari kata metode dan logos. Metodologi diartikan ilmu yang
membicarakan tentang metode-metode. Metode adalah suatu cara, jalan, petunjuk
pelaksanaan atau petunjuk teknis, sehingga memiliki sifat yang praktis.
Unsur-unsur metodelogi menurut Anton Baker dan Ahmad Charris Zubair adalah interpretasi
(menafsirkan), induksi dan deduksi, koherensi intern, holistis, kesinambungan
historis, idealisasi, komperasi, heuristika, analogi, dan deskripsi.
BAB
7 Cara penemuan kebenaran berbeda-beda, kebenaran dapat dilihat secara ilmiah
dan non ilmiah. Menurut hartono kasmadi dkk (1990) adalah sebagai berikut. 1)
penemuan secara kebetulan, adalah penemuan yang berlangsung secara tanpa
disengaja; 2) penemuan coba dan ralat ( trial dan error), terjadi tanpa adanya
kepastian akan berhasil atau tidak berhasil kebenaran yang dicari; 3) penemuan
melalui otoritas atau kewibawaan, misalnya orang-orang yang mempunyai kedudukan
dan kekuasaan sering di terima sebagai kebenaran meskipun pendapatnya tidak di
dasarkan pada pembuktian ilmiah; 4) penemuan secara spekulatif, cara ini mirip
dengan cara coba dan ralat; 5) penemuan kebenaran lewat cara berpikir, kritis
dan rasional. Cara berpikir yang di tempuh pada tingkat permulaan dalam memecahkan
masalah adlah dengan cara berpikir analitis dan sintetis; 6) penemuan kebenaran
melalui penelitian ilmiah, cara mencari kebenaran yang dipandang ilmiah adalah
yang dilakukan melalui penelitian. Telaah dalam filsafat ilmu membawa orang
kepada kebenaran di bagi dalam tiga jenis menurut A.M.W.Pranarka (1987), yaitu kebenaran
epistemologikal, kebenaran ontologikal, dan kebenaran semantika. Secara
tradisional teori-teori kebenaran antara lain sebagai berikut : 1) teori
kebenaran saling berhubungan (coherence theory of truth), 2) teori kebenaran
saling berkesesuaian (correspondence theory of truth), 3) teori kebenaran
inherensi (inherent theory of truth), 4) teori kebenaran berdasarkan arti
(semantic theory of truth), 5) teori kebenaran sintaktis, 6) teori kebenaran
nondeskripsi, 7) teori kebenaran logik yang berlebihan (logical superfluity of
truth).
BAB
8 Definisi adalah sebuah pernyataan yang memuat penjelasan tentang arti suatu term. Macam-macam definisi yaitu, definisi
nominalis ialah menjelaskan sebuah kata dengan kata lain lebih umum dimengerti.;
definisi realis ialah penjelasan tentang hal yang ditandai oleh suatu term; definisi
praktis ialah penjelasan tentang hal sesuatu ditinjau dari segi penggunaan dan
tujuan yang sederhana. Penalaran adalah suatu proses penarikan kesimpulan dari
satu atau lebih proposisi. Prinsip-prinsip penalaran, yakni prinsip identitas, prinsip
kontradiksi, dan prinsip eksklusif. Penalaran eduksi ada tiga macam yakni,
konversi, inversi, dan kontraposisi.
BAB
9 membahas mengenai hubungan dan peran ilmu pengetahuan terhadap pengembangan
kebudayaan nasional. Sekarang ini ilmu menjadi sangat berguna dalam kehidupan
sehari-hari, seolah-olah manusia tidak dapat hidup tanpa ilmu pengetahuan. Kata
kebudayaan berasal dari kata Sanskerta buddhayah,
yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Kebudayaan nasional
diartikan sebagai kebudayaan yang dianut oleh semua warga dalam suatu negara. Kebudayaan
nasional hendaknya menjadi ruang bagi manusia Indonesia untuk berprakarsa atau
mengambil inisiatif, untuk menyatakan pendapat baik secara lisan maupun
tertulis. Menurut Koentjaraningrat kebudayaan nasional memiliki dua fungsi,
yaitu sebagai sistem gagasan dan perlambangan yang memberi identitas kepada
warga negara Indonesia dan sebagai sistem gagasan dan perlambangan yang dapat
dipakai oleh semua warga negara Indonesia yang beraneka ragam untuk saling
berkomunikasi. Menurut Slamet Sutrisno ada lima langkah strategi, yakni
akulturasi, progresivitas berarti maju, sistem pendidikan di Indonesia harus
mampu menanamkan kebudayaan nasional, kebijaksanaan bahasa nasional, dan
sosialisasi Pancasila.
BAB
10 mengenai materi etika keilmuan. Ilmu dan moral termasuk dalam genus
pengetahuan yang mempunyai karakteristik masing-masing. Komponen tiang
penyangga tubuh pengetahuan ada tiga, yaitu ontologi, epistemologi, dan
aksiologi. Menurut Sunoto (1982) etika dapat dibagi menjadi etika deskriptif
dan etika normatif. Moral dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai. Etika
dipakai untuk pengkajian sistem nilai yang ada. Norma adalah sebuah peraturan.
Ilmu pengetahuan dan teknologi bukan hanya sarana untuk mengembangkan diri
manusia saja, namun merupakan hasil perkembangan dan kreativitas manusia itu
sendiri. Tokoh sosiologi, Weber menyatakan bahwa ilmu sosial harus bebas nilai.
Sedangkan tokoh lain Hebermas berpendirian bahwa teori sebagai produk ilmiah
tidak pernah bebas nilai. Ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan
tentang yang ada. Epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang
asal muasal, sumber, metode, struktur dan validitas atau kebenaran pengetahuan.
Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai secara umum.
Sikap ilmiah bagi seorang ilmiah adalah bagaimana cara mencapai suatu ilmu yang
bebas dari prasangka pribadi dan dapat dipertanggungjawabkan secara sosial,
serta dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan (Surajiyo, 2018).
BAB 11 mengenai strategi pengembangan ilmu di Indonesia. Pancasila digali dari budaya Indonesia itu sendiri. Pancasila dalam UUD 1945 adalah dasar negara dari negara Kesatuan Republik Indonesia harus dilaksanakan secara konsisten. Paradigma menurut Thomas S. Kuhn adalah suatu asumsi dasar dan asumsi teoretis yang umum, sehingga menjadi suatu sumber hukum, metode, serta penerapan dalam ilmu pengetahuan sehingga sangat menentukan sifat, ciri, serta karakter ilmu pengetahuan itu sendiri. Pandangan ontologi dari Pancasila adalah Tuhan, manusia, satu, rakyat, dan adil (Damardjati Supadjar, dkk., 1996). Epistemologi Pancasila dimaksudkan mencari sumber-sumber pengetahuan dan kebenaran dari Pancasila. Aksiologi Pancasila merujuk pada nilai-nilai dasar yang terdapat di dalam Pembukaan UUD 1945. Menurut Kaelan (2000) Pancasila merupakan satu kesatuan dari sila-silanya harus merupakan sumber nilai, kerangka berpikir serta asas moralitas bagi pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi. Visi adalah wawasan ke depan yang ingin dicapai dalam kurun waktu tertentu. Visi bersifat intuitif yang menyentuh hati dan menggerakan jiwa untuk berbuat. Abbas Hamami Mintaredja menyarankan agar ilmu dapat lebih aktif dan mampu berfungsi sebagaimana mestinya. Dengan memperhatikan hal-hal dasar, yakni ilmu harus mampu mewadahi kebudayaan masyarakat, adanya keinsyafan mengenai ilmu, pendidikan moral dan etika Pancasila serta moral keagamaan, dan perlunya pendidikan filsafat.
Daftar Pustaka :
· Surajiyo. 2018. Suatu Pengantar
Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta : PT. Bumi Aksara.