Filsafat Ilmu : Pengertian, Karakteristik & Landasan Pemikiran
Nama : Hestiria Fujiani
NIM : 203010702002
Kelas : B
Dosen : DR. R. Sally M.Sihombing, S.IP., M.Si
Ilmu Administrasi Negara
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Banyak kalangan di masyarakat belum tahu mengenai istilah "Filsafat Ilmu" dan pasti beberapa orang selalu bertanya "Apa itu Filsafat Ilmu?". Disini kita akan sama-sama belajar untuk memahami tentang pengertian, karakteristik dan landasan pemikiran dari filsafat ilmu itu sendiri.
1. Pengertian Filsafat Ilmu
Sebelum kita membahas pengertian dari filsafat ilmu menurut para ahli, ada baiknya jika kita mengetahui dari mana asal-usul istilah "Filsafat". Filsafat adalah kata yang berasal dari bahasa Yunani Kuno (Greek), yaitu "Philos" dan "Shopia". Philos berarti mencintai, sedangkan Shopia berarti kebijaksanaan. Menurut Plato, filsafat merupakan pencarian yang bersifat Spekulatif tentang seluruh kebenaran. Seorang filsuf Stoic, Marcus Tullius Cicero (106-43 SM) menyebut filsafat sebagai ibu segala dari pengetahuan (mother of knowledge). Pertama, filsafat adalah ilmu istimewa yang mencoba untuk menjawab masalah-masalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa. Kedua, filsafat adalah hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami secara radikal, integral, dan sistematik, hakikat yang ada, yaitu : Tuhan, alam semesta, dan manusia. Terlepas dari pengertian yang dipaparkan, filsafat juga memiliki tujuan. Tujuan dari filsafat adalah mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin, mengajukan kritik dan menilai pengetahuan, menemukan hakekat pengetahuan, dan mengatur semua pengetahuan secara sistematis. Sehingga dapat disimpulkan bahwa filsafat ilmu adalah ilmu yang mengkaji asal-usul dan tata cara memperoleh pengetahuan, serta sumber pengetahuan.
2. Karakteristik Filsafat Ilmu
Pasti kalian semua bertanya-tanya "apa itu karakteristik filsafat ilmu?" Dalam blog ini akan di jelaskan secara singkat mengenai karakteristik tersebut. Karakteristik filsafat ilmu dapat dibagi menjadi tiga macam bentuk sebagai berikut.
a). Menyeluruh yang berarti seseorang yang berfikir luas, tidak hanya didasari oleh ilmu itu sendiri. Namun, harus melihat perspektif yang luas dalam berbagai hakekat ilmu yang ada.
b). Mendasar yang berarti seseorang memiliki pedoman pemikiran di dalam menyusun pengetahuan.
c). Rasional berarti seseorang tersebut memiliki pemikiran yang logis dan masuk di akal dalam melakukan suatu tindakan.
Setelah memahami pengertian dan mengetahui karakteristik dari filsafat ilmu, kita juga harus mengerti apa saja landasan pemikiran di dalam filsafat ilmu.
3. Landasan Pemikiran Filsafat Ilmu
Landasan pemikiran filsafat ilmu dapat dibagi menjadi 3 pemikiran sebagai berikut.
A. Landasan Pemikiran Ontologis
Kata Ontologis berasal dari bahasa Yunani, yaitu on, ontos berarti ada, keberadaan dan logos berarti Ilmu. Sehingga, ontologis adalah pengetahuan tentang yang ada. Dapat disimpulkan bahwa landasan pemikiran ontologis adalah Ilmu yang membahas mengenai sebuah hakekat yang ada.
B. Landasan Pemikiran Epistemologis
Kata epistemologis berasal dari bahasa Yunani, yaitu episteme berarti pengetahuan dan logos berati ilmu. Epistemologis adalah suatu landasan pemikiran yang mempertanyakan "apa dan bagaimana" sesuatu tersebut dapat dikatakan sebagaimana telah ada sekarang ini.
C. Landasan Pemikiran Aksiologi
Istilah aksiologi ini didapat dari bahasa Yunani, yaitu axios berarti nilai dan logos berarti ilmu. Sehingga, aksiologi dapat di artikan sebagai ilmu yang membahas mengenai suatu nilai dan manfaat daru suatu yang dikaji oleh seseorang. Nilai ini dapat dilihat dari sudut pandang moral, agama, dan suatu kepercayaan.
Tugas Mingguan
Mision
1. Studi Kasus Landasan Pemikiran Ontologis (Petani)
Salah satu studi kasus dari ontologis adalah seorang petani. Petani memiliki peran penting dalam
menghasilkan suatu produk pertanian. Petani terdiri dari berbagai dimensi yang beragam, sehingga
berbagai kalangan memberi pandangan sesuai dengan ciri-ciri yang dominan. Beberapa macam petani yang dibedakan menurut usahanya, seperti adalah petani padi, petani jagung, dan petani karet. Ciri-ciri pertanian modern, yaitu menggunakan bibit unggul, lebih menghemat waktu, dan hasil yang dihasilkan lebih besar. Sedangkan pertanian tradisional memiliki ciri-citi, seperti tidak menggunakan pestisida, modal yang dipakai masih sedikit, tenaga manusia yang masih banyak digunakan, dan hasil produksi yang masih kurang
terjangkau.
Pada zaman ini, sebagian petani menggunakan teknologi modern, seperti menggunakan mesin traktor
dalam membajak sawah dan adanya pisau sadap karet elektrik. Begitupun sebaliknya bahwa tidak sedikit
petani yang masih menggunakan teknologi sederhana, seperti alat tradisional yang disebut dengan cangkul, sabit, garu, dan beberapa alat lainnya. Petani tradisional tidak membutuhkan banyak modal untuk
menjalankannya, sedangkan pertanian modern membutuhkan banyak modal untuk menjalankannya, dan pada pertanian modern telah dilaksanakan oleh petani yang sudah memiliki pengalaman dan keterampilan, serta pandai mengelola keuangan. Dilihat dari teknologi modern yang digunakan pun memiliki kekurangan,
salah satunya adalah polusi yang ditimbulkan oleh mesin yang digunakan oleh petani. Dalam aspek produktivitas antara petani modern dan petani tradisional pun sangat berbeda. Berdasarkan lahan petani di bagi menjadi dua macam, yaitu petani gurem dan petani non gurem. Petani gurem adalah petani yang menguasai lahan kurang dari 0,50 Ha. Sedangkan petani non gurem adalah petani yang memiliki atau menguasai lahan 0,50 Ha atau lebih.
Dari semua perbedaaan yang ada dalam dunia pertanian tersebut, kita tetap melihat dan mengenali
bahwa yang membajak, menanam, dan memanen semua hasilnya adalah seorang petani. Orang-orang
akan tetap mengenal petani adalah seorang yang melakukan budidaya tanaman, mulai dari penyiapan
lahan, penanaman, pemeliharaan, sampai dengan memanen hasilnya, walaupun dimasa saat ini di dalam
dunia pertanian, banyak hal yang berbeda. Tidak terlepas dari perubahan teknologi yang digunakan oleh para petani, ada kesamaan yang membuat orang-orang mengenali dan mengetahui bahwa yang mereka
lihat adalah seorang petani. Contohnya traktor dan sapi sama-sama digunakan untuk membajak sawah.
2. Studi Kasus Landasan Pemikiran Epistemologis (Budidaya Ikan lele)
Di dalam studi kasus epistomologis adapun pertanyaan yang akan berkaitan, yaitu “Bagaimana orang-
orang mengetahui bahwa sesuatu tersebut disebut sebagai budidaya ikan lele?”. Budidaya ikan konsumsi
adalah sebuah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang guna mendapatkan hasil agar terpenuhinya
keinginan masyarakat dalam mengonsumsi ikan. Ikan konsumsi diartikan sebagai ikan yang sering dijadikan
lauk pauk dan memiliki banyak pilihan olahan. Jenis ikan kosumsi yang sering dibudidayakan sangatlah beragam, yaitu ikan lele, ikan gabus, ikan
gurami, ikan bawal, ikan patin, ikan mas, ikan kerapu, dan masih banyak lagi jenis ikan yang dibudidayakan
oleh sang pembudidaya ikan. Beberapa manfaat yang didapat peternak dan para konsumen. Pertama
menjadi sumber penghasilan yang berarti seorang pembudidaya ikan konsumsi memiliki peluang usaha
yang menjanjikan dan mendapatkan untung yang tinggi, serta memberi kemudahan kepada konsumen
dalam mencari lauk pauk yang diinginkan. Kedua, budidaya ikan konsumsi ini dapat memenuhi kebutuhan
gizi pada konsumen. Ketiga, bagi pembudidaya ikan konsumsi bahwa permintaan terhadap ikan yang di jual tidak pernah berkurang.
Salah satu jenis ikan yang digemari oleh masyarakat Indonesia adalah ikan lele. Ikan lele relatif mudah
dibudidayakan di perairan iklim hangat, sehingga dapat menyuplai dengan harga terjangkau bagi pasar
setempat. Ikan ini memiliki rasa yang enak setelah diolah dan kaya akan gizi seperti omega-3, serat protein,
asam amino, zat besi dan yodium. Usaha budidaya ikan lele tidak terlalu sulit dilakukan. Peternak lele tidak
perlu menyiapkan lahan luas untuk bisa menjalakan budidaya lele. Pemeliharaan ikan lele pun mudah dan
tidak perlu waku yang lama untuk panen.
Berikut beberapa langkah dari budidaya ikan lele. Pertama, memperhatikan lokasi hidup ikan lele,
semakin baik kualitas air maka semakin baik pula pertumbuhan ikan lele. Suhu yang baik untuk budidaya
ikan lele adalah pada suhu 26 derajat – 32 derajat celcius. Kedua, kolam ikan lele yang dibagi beberapa
jenis, yaitu kolam terpal, kolam semen, dan kolam tanah. Ketiga, benih ikan lele yang berkualitas, untuk
benih lele ukurannya berkisar 5-7 cm. Keempat, mencari tahu mengenai lele yang siap untuk dibuahi dan mengembangbiakkannya. Kelima, memindahkan benih lele ke dalam kolam, kolam untuk benih lele harus
memiliki ketinggian air yang dikurangi 10 cm hingga 20 cm dari ketinggian kolam lele yang biasanya.
Keenam, memelihara ikan lele. Langkah terakhir adalah memisahkan lele yang siap panen, ukuran yang
biasa di cari di pasaran adala sekitar 7 sampai 12 cm.
Dengan pemikiran epistomologis dapat memberikan penjelasan mengenai suatu hal yang di infromasikan, sehingga kemudian dianalisis mengenai pengetahuan budidaya ikan lele tersebut. Walaupun
sejak lama budidaya ikan lele telah di lakukan, perubahan pembudidayaan yang ada tidak mempengaruhi bentuk dan rasa dari ikan lele tersebut. Budidaya ikan bisa dengan mudah dikenali oleh banyak orang ketika
melihat kolam yang tersusun beraturan dan memiliki ukuran yang berbeda untuk tempat menyortir ikan yang siap dipanen dan belum siap dipanen.
3. Studi Kasus Landasan Pemikiran Aksiologi (Petani)
Di dalam studi kasus pemikiran aksiologi adapun pertanyaan yang berkaitan, yaitu “ Apa nilai-nilai yang
dapat di ambil dalam kehidupan seorang petani?”. Di dalam setiap pekerjaan yang dilakukan seseorang
pasti memiliki keuntungan, seperti halnya seorang petani. Perjuangan seseorang atau kelompok yang tak
terlihat sedang menghidupi masyarakat banyak tanpa mengeluh, dipuji dan dipuja, itu lah petani yang
sedang menaruh benih di ladang tersinari oleh matahari yang terik dan menunggu padi itu bersemi dan menguncup tanda siap akan dipanen. Begitulah pekerjaan seorang petani sehari-hari.
Pekerjaan petani dengan bantuan negara dapat menghantarkan kesuksesan memberikan devisa
negara yang tinggi dan mengubah wajah dan status negara dari pengimpor beras menjadi negara
pengekspor beras tersebesar di dunia dan tercapainya swasembada beras pada tahun 1980. Peran petani
sangatlah besar selain dalam memenuhi kebutuhan pokok manusia juga dapat memenuhi ketahanan
pangan Indonesia. Peran petani Indonesia sangat penting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Indonesia, seorang petani yang diayomi oleh negara juga dapat memberikan devisa negara yang tinggi. Petani juga dapat mengubah wajah dan status negara Indonesia dari pengoimpor beras menjadi negara pengekspor beras tersebar di seluruh dunia. Pertanian juga membawa dampak positif bagi lingkungan yang membuat udara segar di ladang pertanian.
Berikut nilai-nilai di dalam kehidupan seorang petani patut di contoh oleh orang banyak. Pertama,
menghargai, karena sesungguhnya kerja-kerja di pertanian adalah pekerjaan yang menghasilkan makanan
bagi kehidupan manusia yang be kerja sama dengan alam. Semua kehidupan yang ada di alam memiliki
peran dan semuanya patuh/setia pada peran tersebut, menghargai peran makhluk lain, serta memahami
bahwa semua unsur tersebut saling tergantung dan membutuhkan. Kedua, menyayangi, semua makhluk
hidup mempunyai perasaan, termasuk tanaman dan ternak. Pada umumnya, manusia cenderung selalu
berpikir tentang unsur-unsur pertanian yang kelihatan, seperti pupuk, benih, dan pestisida. Manusia dengan
ego nya, memaksa tanaman menuruti kemauannya agar berproduksi tinggi dengan berbagai cara yang
ditentukannya. Manusia yang menghargai hak asasi tercermin ketika ia juga menghargai hak tanaman.
Ketiga, membebaskan. Sejak pertanian modern (pertanian yang sarat bahan kimia dan unsur-unsur tidak
alami) menggusur pertanian tradisional, petani kehilangan martabatnya sebagai manusia. Pertanian
tradisional atau alami adalah sistem pertanian yang membebaskan petani untuk berinteraksi langsung dengan alam sekitar tanpa harus tergantung pada salah satu produsen benih, pupuk atau pestisida.
Keempat, saling berbagi. Saling berbagi di antara petani dan kebebasan melakukan uji coba adalah salah
satu ciri pertanian. Kelima, kesetaraan. Artinya, semua orang di semua tempat dapat melakukan pertanian
alami. Siapa pun dia, laki-laki, perempuan, tua, muda, anak-anak, dapat menjadi sumber pengetahuan, karena pengalaman setiap orang di manapun berada akan beragam. Keberlanjutan. Menerapkan sistem
pertanian alami berarti mengelola dan merawat lingkungan atau alam sekitar.
Question
A. Contoh Pemikiran Ontologis
Pada dasarnya ilmu dapat dipahami sebagai proses aktivitas penelitian, metode ilmiah, dan
pengetahuan sistematis. Pemikiran ontologis itu memicu munculnya “Ilmu Pertama” atau “Filsafah Pertama” yang menanyakan tentang hakikat yang ada. Pemikiraan ontologis menurut Mohammad Hatta (1902-1980)
dibagi menjadi dua pengetahuan berdasarkan cara memperolehnya, yaitu pengetahuan yang diperoleh dari
pengalaman dan keterangan. Pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman di sebut “pengetahuan
pengalaman” dan pengetahuan yang di peroleh dari keterangan disebut ilmu. Contoh yang diberikan Mohammad Hatta dalam pengetahuan pengalaman adalah pengalaman yang dimiliki oleh petani
tradisional.
B. Contoh Pemikiran Epistemologis
Di dalam pemikiran epistomologis terdapat pertanyaan yang diajukan oleh Plato, seperti “Apa itu
pengetahuan? Seberapa jauh hubungan antara pengetahuan dan kepercayaan yang benar?”. Di dalam
persoalan epistemologi dapat diketahui mengenai objek filsafat, cara memperoleh pengetahuan dan
berbagai teori tentang kebenaran. Contoh dari epistemologis adalah teori kohorensi adalah pernyataan
yang berbunyi : “Soekarno adalah ayahanda Megawati”. Pernyataan tersebut secara umum adalah sebuah
kebenaran. Pernyataan tersebut menjelaskan fakta bahwa “Soekarno memiliki putri” dan “Megawati adalah
putri dari Soekarno”.
C. Contoh Pemikiran Aksiologi
Dalam aksiologi pertanyaan yang berkaitan, yaitu “Apakah kegunaan ilmu itu”. Loren Bagus merangkum
beberapa pengertian aksiologi. Pertama, aksiologi adalah analisis nilai-nilai. Kedua, aksiologi merupakan
studi yang menyangkut teori umum tentang nilai atau studi yang yang berkaitan dengan segala yang bernilai. Ketiga, aksiologi adalah studi filosofis tentang hakikat nilai-nilai. Aksiologi merupakan bagian dari
etika. Contohnya dalam menyatakan nilai yang dicapai oleh mahasiswa berkatagori baik atau tidak. Dalam aksiologi si empunya ilmu harus mampu menilai antara yang baik dan yang buruk.
Sumber :
* Biyanto, Filsafat Ilmu dan Ilmu Keislaman, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015.