Review Kedua Buku Filsafat Ilmu

Nama                = Hestiria Fujiani

NIM/Kelas        = 203070102002/B

Mata Kuliah     = Filsafat Ilmu

Jurusan             = Ilmu Administrasi Negara

   

2.         Review Kedua Buku Filsafat Ilmu 

Identitas Buku Filsafat Ilmu

Judul

:

Filsafat Ilmu : Edisi Revisi

Cetakan

:

Cetakan ke-12, 2018

Tempat Terbit

:

Jakarta

Penulis

:

Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, M.A.

Penerbit

:

PT Rajagrapindo Persada

Tebal

:

Xiv + 251 hlm

 

A.       BAB 1 COMPARE

1.1     Kesamaan yang dilihat dalam buku

·        Moh. Hatta dan Langeveld berpendapat bahwa definisi filsafat tidak perlu diberikan karena setiap orang titik tekannya sendiri dalam definisinya.

·    Plato, Aristoteles, Al Farabi, Sidi Gazalba, dan H.Hamersama menyampaikan bahwa filsafat merupakan pengetahuan yang meliputi suatu kebenaran.

·       Deng Fung Yu Lan, H. Hamersama, dan Sidi Gazalba sama-sama menyampaikan bahwa filsafat sebagai suatu pikiran atau pengetahuan yang sistematis.

·      Ralph Ross dan Ernest Van Den Haag, mengatakan bahwa ilmu adalah yang empiris, rasional, umum dan sistematik, dan keempatnya serentak.

·       Thales (624-546 SM) dan Heraklitos (540-480 SM) sama-sama berpendapat bahwa keadaan alam dapat berubah.

·    Pythagoras (580-500 SM) dan Galileo sama-sama berpendapat bahwa alam tidak terlepas dari matematika atau suatu bilangan.

·           Menurut Socrates, Plato dan Aristoteles, kebenaran objektif bergantung pada manusia.

·   John Locke dan David Hume berpendapat bahwa manusia awalnya tidak tahu apa-apa mengenai pengetahuan.

·      Descartes dan Spinoza sama-sama memiliki pendapat bahwa suatu kebenaran tidak perlu diragukan lagi.

·      August Comte dan Immanuel Kant memiliki kesamaan pendapat bahwa indera sangat berpengaruh dalam memperoleh pengetahuan.

·           Noeng Muhadjir, Jujun S. Suriasumantri, dan Amsal Bakhtiar menyatakan bahwa ontologi membahas tentang yang ada.

·           Sidi Gazalba dan A. Dardiri sama-sama menyatakan bahwa ontologi mempersoalkan sifat.

·           Menurut Bloch, Trager, dan Joseph Broam adalah suatu sistem simbol-simbol bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh suatu kelompok sosial.

 

B.       BAB II CONTRAST

2.1     Ketidaksamaan yang dilihat dalam buku

·           Sutan Takdir Alisjahbana berpendapat bahwa filsafat adalah berpikir dengan insaf. Sedangkan Harun Nasution mengatakan bahwa filsafat adalah berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma, dan agama) dan dengan sedalam-dalamnya, sehingga sampai ke dasar-dasar persoalan (Amsal Bakhtiar, 2018).

·           Mohammad Hatta, mendefinisikan ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam suatu golongan masalah yang sama tabiatnya, maupun menurut kedudukannya tampak dari luar, maupun menurut bangunannya dari dalam. Sedangkan menurut Karl Pearson, ilmu merupakan lukisan keterangan yang komprehensif dan konsisten tentang fakta pengalaman dengan istilah sederhana (Amsal Bakhtiar, 2018).

·      Immanuel Kant berpendapat bahwa filsafat itu ilmu dasar segala pengetahuan. Sedangkan menurut Sutan Takdir Alisjahbana berpendapat bahwa filsafat adalah berfikir dengan insaf.

·      Thales (624-546 SM) mengatakan bahwa alam adalah air. Sedangkan Anaximandros (610-540 SM) tidak menyetujui bahwa unsur utama alam adalah air atau tanah. Menurut Anaximandros, unsur utama alam mencangkup segalanya dan diatas segalanya.

·         Heraklitos (540-480 SM) menyatakan bahwa gerak dan perubahan pasti terjadi (alam selalu bergerak). Sedangkan Parmenides berpendapat bahwa gerak dan perubahan tidak mungkin terjadi (gerak alam terlihat semu).

·        Carles Siregar berpendapat bahwa ilmu adalah proses yang membuat pengetahuan. Sedangkan Herbert L. Searles menyatakan bahwa ilmu berbeda dengan filsafat berdasarkan empiris, maka ilmu berbeda dari pengetahuan biasa karena ciri sistematisnya.

·      Aristoteles menggambarkan alam ide sebagai suatu tenaga yang berada dalam benda-benda. Sedangkan menurut George Barkeley menyatakan ide adalah objek fisis.

·       Soren Kierkegaard (1813-1855 SM) menyatakan bahwa manusia tidak pernah hidup sebagai suatu aku umum, tetapi sebagai aku individual yang sama sekali unik dan tidak dapat dijabarkan ke dalam sesuatu yang lain. Sedangkan menurut Martin Heidegger (1889-1855 SM), satu-satunya yang ada itu ialah manusia, karena hanya manusialah yang dapat memahami dirinya sendiri.

·      Jean Paul Sartre (1905-1980 M) menyatakan bahwa kenyataan mengalami transenden. Sedangkan menurut Karl Jaspers (1883-1969 M), kenyataan tidak mengalami transenden. 

C.       BAB III CRITIZE

3.1     Pandangan Terhadap Buku

·           Keunggulan buku

Buku berjudul Filsafat Ilmu yang ditulis oleh Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, M.A., menggunakan ukuran huruf dan spasi yang mudah dibaca. Buku ini sangat berguna untuk menambah wawasan para pembaca dalam memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan, dan kemajuan ilmu di berbagai bidang khususnya bidang ilmu bahasa dan sastra Indonesia. Dengan membaca buku ini para pembaca dapat langsung memahami unsur-unsur pokok ilmu dan memahami sumber, hakikat tujuan ilmu.

·           Kekurangan buku

Buku berjudul Filsafat Ilmu yang ditulis oleh Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, M.A., memiliki beberapa kekurangan, seperti kata-kata dari terjemahan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia yang digunakan sulit untuk dipahami, penggunaan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) masih ada yang kurang diperhatikan, dan kurangnya tabel, diagram, atau gambar-gambar yang mendukung isi buku, hal tersebut akan membuat para pembaca merasa bosan melihat buku ini.

D.       BAB IV SYHNTESIZE

4.1     Membandingkan dalam Buku

Dalam buku ini terdapat perbandingan-perbandingan yang ditemukan, seperti teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli, aliran yang dianut oleh para ilmuwan, metode-metode dalam filsafat ilmu, dan lain sebagainya. Berikut beberapa perbandingan di dalam buku filsafat ilmu ini.

·       Mohammad Hatta, mendefinisikan ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam suatu golongan masalah yang sama tabiatnya, maupun menurut kedudukannya tampak dari luar, maupun menurut bangunannya dari dalam. Sedangkan menurut Karl Pearson, ilmu merupakan lukisan keterangan yang komprehensif dan konsisten tentang fakta pengalaman dengan istilah sederhana (Amsal Bakhtiar, 2018).

·       Thales (624-546 SM) dan Heraklitos (540-480 SM) sama-sama berpendapat bahwa keadaan alam dapat berubah.

·       Teori korespodensi menyatakan bahwa kebenaran atau keadaan benar itu apabila ada kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh suatu pernyataan atau pendapat dengan objek yang dituju oleh pernyataan atau pendapat tersebut. Teori ini di pelopori oleh, Plato, Aristoteles, Moore, Russel, Ramsey, dan Tarski.

·   Teori Pragmatisme menyatakan benar atau tidaknya suatu ucapan, dalil, atau teori semata-mata bergantung kepada asas manfaat. Teori ini diangkat oleh Charles S. Pierce (1839-1914 SM).

E.        BAB V SUMMARIZE

5.1     Meringkas Isi Buku

·           BAB 1 Ruang Lingkup Filsafat Ilmu

a)         Ilmu Sebagai Objek Kajian Filsafat

Pada dasarnya, setiap ilmu memiliki dua macam objek, yaitu objek material dan objek formal. Objek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan, seperti tubuh manusia yang merupakan objek material ilmu kedokteran. Objek formal adalah metode untuk memahami objek material, seperti pendekatan induktif dan deduktif. Objek material filsafat adalah segala yang ada. Objek formal filsafat adalah sudut pandang yang menyeluruh, radikal, dan rasional tentang segala yang ada.

b)        Pengertian Filsafat Ilmu

Istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani: philosophia (philos: cinta, philia: persahabatan, tertarik kepada) dan sophos (kebijaksanaan). Secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan.

Pengertian filsafat secara terminologi sangat beragam, banyak sekali para ahli yang mendefinisikan filsafat sebagai berikut.

Sutan Takdir Alisjahbana berpendapat bahwa filsafat adalah berpikir dengan insaf. Harun Nasution mengatakan bahwa filsafat adalah berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma, dan agama) dan dengan sedalam-dalamnya, sehingga sampai ke dasar-dasar persoalan. Mohammad Hatta, mendefinisikan ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam suatu golongan masalah yang sama tabiatnya, maupun menurut kedudukannya tampak dari luar, maupun menurut bangunannya dari dalam. Menurut Karl Pearson, ilmu merupakan lukisan keterangan yang komprehensif dan konsisten tentang fakta pengalaman dengan istilah sederhana.

c)         Tujuan Filsafat Ilmu

Tujuan filsafat ilmu adalah :

Ø  Memahami unsur-unsur pokok ilmu, sehingga secara menyeleuruh kita dapat memahami sumber, hakikat dan tujuan ilmu.

Ø  Memahami sejatah pertumbuhan, perkembangan dan pertumbuhan ilmu diberbagai bidang, sehingga kita mendapat gambaran tentang proses ilmu kontemporer secara histories.

Ø  Menjadi pedoman bagi para dosen dan mahasiswa dalam memahami studi di perguruan tingggi, terutama untuk membedakan persoalan yang ilmian dan non ilmiah.

Ø  Mendorong pada calon ilmuwan untuk konsisten dalam mendalalmi ilmu dan mengembangkannya.

Ø  Mempertegas bahwa dalam persoalan sumber dan tujuan antara ilmu dan agama tidak ada pertentangan. 

·   BAB 2 Sejarah Perkembangan Ilmu

a)  Landasan Ilmu pada Zaman Yunani

Periode filsafat Yunani merupakan periode sangat penting dalam sejarah peradaban manusia karena saat itu terjadi perubahan pola pikir manusia dari mitosentris menjadi logo-sentris. Pola pikir mitosentris adalah pola pikir masyarakat yang sangat mengenal mitos untuk menjelaskan fenomena alam, seperti gempa bumi dan pelangi. Ahli pikir pertama kali yang muncul adalah Thales (625–545 SM) yang berhasil mengembangkan geometri dan matematika. Likipos dan Democritos mengembangkan teori materi, Hipocrates mengembangkan ilmu kedokteran, Euclid mengembangkan geometri  edukatif,  Socrates  mengembangkan  teori tentang moral, Plato mengembangkan teori tentang ide, Aristoteles mengembangkan teori tentang dunia dan benda serta berhasil mengumpulkan data 500 jenis binatang (ilmu biologi).

b)   Perkembangan Ilmu Zaman Islam

Dalam perjalanan ilmu dan filsafat di dunia Islam, pada dasarnya terdapat upaya rekonsilasi-dalam arti mendekatkan dan mempertemukan dua pandangan yang berbeda. Pada masa ini, terdapat pusat-pusat ilmu pengetahuan seperti Ariokh, Ephesus, dan Iskandariah, dimana buku-buku Yunani diterjemahkan dalam berbagai bahasa.

c)    Kemajuan Ilmu Zaman Renaisans dan Modern

Renaisans merupakan era sejarah yang penuh dengan kemajuan dan perubahan yang mengandung arti bagi perkembangan ilmu. Zaman peralihan ketika budaya tengah mulai berubah menjadi suatu kebudayaan modern. Zaman ini juga merupakan penyempurnaan kesenian, keahlian, dan ilmu yang diwujudkan dalam diri jenius serba bisa, Leonardo da Vinci. Penemuan percetakan (kira-kira 1440 M) dan ditemukannya benua baru (1492 M) oleh Colombus memberikan dorongan lebih keras untuk meraih kemajuan ilmu. Kelahiran kembali sastra di Inggris, Prancis, dan Spanyol diwakili Shakespeare, spencer, Rabelais, dan Ronsard. Saat itu, seni musik juga mengalami perkembangan.

Zaman modern ditandai dengan penemuan dalam bidang ilmiah. Tokoh yang terkenal dalam masa ini adalah Rene Descartes. Ia mewariskan suatu metode berpikir yang menjadi landasan berpikir dalam ilmu pengetahuan modern.

d)        Kemajuan Ilmu Zaman Kontemporer

Pada masa ini, ilmu fisika menempati kedudukan yang penting. Dalam masa ini perkembangan dalam berbagai ilmu teknologi komunikasi dan informasi melaju sangat pesat. Ilmu lebih berkembang ke arah spesifik yang beragam. Ilmu yang berkembang lebih bersifat sintesis antara bidang ilmu satu dan bidang ilmu lain. Akibatnya, perkembangan ilmu menjadi lebih bermanfaat dalam kehidupan manusia.

·    BAB 3 Pengetahuan dan Ukuran Kebenaran

a)    Definisi dan Jenis Pengetahuan

Secara etimologi pengetahuan berasal dari kata dalam bahasa Inggris yaitu knowledge. Secara terminologi ditemukan beberapa definisi tentang pengetahuan. Mohammad Hatta, mendefinisikan ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam suatu golongan masalah yang sama tabiatnya, maupun menurut kedudukannya tampak dari luar, maupun menurut bangunannya dari dalam. Sedangkan menurut Karl Pearson, ilmu merupakan lukisan keterangan yang komprehensif dan konsisten tentang fakta pengalaman dengan istilah sederhana. Jenis-jenis pengetahuan menurut Burhanuddin Salam, yaitu: pengetahuan biasa, pengetahuan ilmu, pengetahuan filsafat, dan pengetahuan agama.

b)   Hakikat dan Sumber Pengetahuan

Pengetahuan pada dasarnyta adalah keadaan mental (mental state). Mengetahui sesuatu adalah menyusun pendapat tentang suatu objek, dengan kata lain menyusun gambaran tentang fakta yang ada di luar akal. Ada dua teori yang mengetahui hakikat pengetahuan, yaitu realisme dan idealisme. Ada beberapa pendapat tentang sumber pengetahuan yaitu, empirisme, rasionalisme, intuisi, dan wahyu.

c)    Ukuran Kebenaran

Berpikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Secara umum orang merasa bahwa tujuan pengetahuan adalah untuk mencapai kebenaran, namun masalahnya tidak hanya sampai di situ saja. Kebenaran dalam arti semantis adalah kebenaran yang terdapat serta melekat dalam tutur kata dan bahasa. Teori yang menjelaskan kebenaran secara epistemologi, yakni teori korespondensi, teori pragmatisme tentang kebenaran, agama sebagai kebenaran.

d)  Klasifikasi dan Hierarki Ilmu

Pada filosofi muslim membedakan imlu kepada ilmu yang berguna dan yang tidak berguna. Kategori ilmu yang berguna memasuki ilmu-ilmu duniawi, seperti kedokteran, fisika, kimia, geografi, logika, etika, bersama disiplin-disiplin yang khusus mengenai ilmu keagamaan. Cabang-cabang ilmu yang tidak berguna, yakni ilmu sihir, alkemi dan numerologi. Secara umum ada tiga basis yang mendasar dalam menyusun secara hierarkis, yakni ilmu-ilmu metodologis, ontologis, dan etis.

·    BAB 4 Dasar-Dasar Ilmu

a)    Ontologi

Kata ontologi berasal dari perkataan Yunani: On = being, dan Logos = logic. Noeng Muhadjir mengatakan, ontologi membahas tentang yang ada, yangtidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada, menampilkan pemikiran semesta universal. Di dalam pemahaman ontologi dapat ditemukan pandangan-pandangan pokok pemikiran, yakni monoisme (materialisme dan idealisme), dualisme, pluralisme, nihilisme, dan agnostisisme.

b)    Epistemologi

Epistemologi atau teori pengetahuan ialah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan. Pengetahuan yang diperoleh oleh akal manusia melalui akal, indera, dan lain-lain mempunyai metode tersendiri dalam teori pengetahuan, yakni metode induktif (suatu metode yang menyimpulkan pernyataan-pernyataan hasil observasi disimpulkan dalam suatu pernyataan yang lebih umum; metode deduktif ialah metode yang menyimpulkan bahwa data-data empirik diolah lebih lanjut dalam suatu sistem pernyataan yang runtut; metode positivisme, metode kontemplatif, dan metode dialektis.

c)     Aksiologi

Aksiologi berasal dari perkataan axios (Yunani) yang berarti nilai dan logos yang berarti teori. Jadi aksiologi adalah teori tentang nilai. Aksiologi berkaitan dengan nilai. Nilai adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Teori tentang nilai dalam filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika. Etika menilai perbuatan manusia, sedangkan estetika berkaitan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki oleh manusia terhadap lingkungan dan fenomena di sekelilingnya.

·     BAB 5 Sarana Ilmiah

a)     Bahasa

Bahasa memegang peranan penting dan suatu hal yang lazim dalam hidup dan kehidupan manusia. Kelaziman tersebut membuat manusia jarang memerhatikan bahasa dan menganggapnya sebagai suatu hal yang biasa, seperti bernapas dan berjalan. Padahal bahasa mempunyai pengaruh-pengaruh yang luar biasa dan termasuk yang membedakan manusia dengan yang lainnya. Bahasa sebagai sarana komunikasi antar manusia, tanpa bahasa tiada  komunikasi. Dengan kemampuan kebahasaan akan terbentang luas cakrawala berpikir seseorang dan tiada batas dunia baginya. Secara umum dapat dinyatakan bahwa fungsi bahasa adalah koordinator kegiatan-kegiatan masyarakat, penetapan pemikiran dan pengungkapan, penyampaian pikiran dan perasaan, penyenangan jiwa, serta pengurangan kegoncangan jiwa.

b)   Matematika

Pada abad ke-20, seluruh kehidupan manusia sudah mempergunakan matematika. Banyak sekali ilmu-ilmu sosial yang menggunakan matematika sebagai sosiometri, psychometri, econometri, dan seterusnya. Matematika mempunyai peranan penting dalam berpikir deduktif, sedangkan statistika mempunya peran penting dalam berpikir induktif.

Matematika adalahbahasa yang melambangkan serangkaian makna dari serangkaian pernyataan yang ingin di sampaikan. Lambang-lambang dari matematika dibuat secara artifisial dan individual. Matematika sebagai ilmu deduktif. Nama ilmu deduktif diperoleh karena penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi tidak didasari pada pengalaman seperti halnya yang terdapat di dalam ilmu-ilmu empirik, melainkan didasarkan atas (penjabaran-penjabaran). Di samping pengetahuan mengenai matematika itu sendiri, matematika juga memberikan bahasa, proses, dan teori yang memberikan ilmu suatu bentuk dan kekuasaan.Dalam ilmu sosial, matematika biasa digunakan untuk menggambarkan kondisi politik dalam sebuah suasana politik.

c)    Statistik

Secara etimologi, kata “statistik” berasal dari kata status (bahasa Latin) yang mempunyai persamaan arti dengan kata state (bahasa Inggris) yang dalam bahasa diterjemahkan dengan negara. Statistika adalah sekumpulan metode untuk membuat keputusan yang bijaksana dalam keadaan yang tidak menentu. Statistika sebagai sarana berpikir yang diperlukan untuk memproses pengetahuan secara ilmiah. Sebagai bagian dari perangkat metode ilmiah, statistika membantu untuk melakukan generalisasi dan menyimpulkan karakteristik suatu kejadian secara lebih pasti dan bukan terjadi secara kebetulan.

d)    Logika

Logika adalah sarana untuk berpikir sistematis, valid, dan dapat dipertanggungjawabkan. Untuk berpikir baik, yakni berpikir benar, logis-dialektis, juga dibutuhkan kondisi-kondisi tertentu, yaitu: mencintai kebenaran; mengetahui dengan sadar apa yang sedang dikerjakan; mengetahui dengan sadar apa yang sedang dikatakan; membuat distingsi (pembedaan) dan pembagian (klasifikasi) yang semestinya; mencintai definisi yang tepat; menghindari segala kesalahan-kesalahan dengan segala usaha dan tenaga serta sanggup mengenali jenis, macam, dan nama kesalahan, demikian juga mengenali sebab-sebab kesalahan pemikiran (penalaran).

·       BAB 6 Tantangan dan Masa Depan Ilmu

a)     Kemajuan Ilmu dan Krisis Kemanusiaan

Kemajuan ilmu dan teknologi yang semula bertujuan untuk mempermudah pekerjaan manusia, tetapi kenyataannya teknologi telah menimbulkan keresahan dan ketakutan baru bagi kehidupan manusia. Ketika kemajuan ilmu dan teknologi, yang semula untuk memudahkan urursan manusia,  kemudian urursan itu semakin mudah, maka munculah “kesepian” dan “keterasingan” baru, yakni lunturnya rasa solidaritas, kebersamaan dan silaturrahim. Contohnya, penemuan televisi, komputer, dan handphone.

Krisis kemanusiaan tidak saja terjadi akibat teknologi maju, tetapi juga akibat kecenderungan, ideologi, dan gagasan yang tidak utuh. Contohnya, ide dan gerakan emansipasi yang dikumandangkan oleh para penggerak feminisme.

b)   Agama, Ilmu, dan Masa Depan Manusia

Agama dan ilmu dalam beberapa hal berbeda, namun pada sisi tertentu memiliki kesamaan. Agama lebih mengedepankan moralitas dan menjaga tradisi yang sudah mapan (ritual) cenderung ekslusif, dan subjektif. Sementara ilmu selalu mencari yang baru, agama memberikan ketenangan dari segi batin karena ada janji kehidupan setelah mati, sedangkan ilmu memberi ketenangan dan sekaligus kemudahan bagi kehidupan di dunia. Ilmu dan teknologi tidak harus dilihat dari aspek yang sempit, tetapi harus dillihat dari tujuan jangka panjang dan untuk kepentingan hidup yang lebih abadi. 

Daftar Pustaka

·    BachtiarAmsal. 2018. Filsafat Ilmu : Edisi Revisi. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.



Postingan populer dari blog ini

Filsafat Ilmu : Pengertian, Karakteristik & Landasan Pemikiran

Review Ketiga Buku Filsafat Ilmu