Review Jurnal Nasional 3
Nama = Hestiria Fujiani
NIM/Kelas = 203070102002/B
Mata Kuliah = Filsafat Ilmu
C. Review Jurnal Nasional 3
|
Identitas
Jurnal Nasional 3 |
||
|
Judul |
: |
Kepastian
dan Ketidakpastian dalam Sains |
|
Jurnal |
: |
Filsafat
Indonesia |
|
Volume
& halaman |
: |
Vol.
2 (1) & hlm. 33-36 |
|
Penerbit |
: |
Universitas
Pendidikan Ganesha |
|
Tahun |
: |
2019 |
|
Penulis |
: |
Harry
Firman |
|
Sumber
Jurnal |
: |
https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JFI/article/download/17549/10529 |
1.3 Latar Belakang
Kepastian
dan ketidakpastian dalam sains sangat berpengaruh dalam metodologi dan unsur
intrinsik struktur pengetahuan sains. Dari sudut pandang sejarah keberadaan
sains mengalami banyak guncangan. Pada era zaman Plato, sains memiliki reputasi
yang rendah. Perhatian masyarakat pada fenomena yang terjadi di sekitarnya
kurang diperhatikan. Plato menyatakan agar mengerti dunia, seseorang harus
memperhatikan prinsip-prinsip umum di balik hal-hal yang diamati. Hal tersebut
memicu suatu pandangan bahwa menjadi seorang ahli sains merupakan suatu
kebodohan.
Pada
abad ke-17 keberadaan sains kembali terangkat di zaman Renaissance. Kemajuan
dalam matematika mendorong perkembangan dalam sains. Reputasi sains sangat
tinggi pada era itu, sehingga sains dipandang sebagai jawaban terhadap segala
macam pertanyaan dan masalah manusia.
Dampak yang ditimbulkan oleh sains mulai disadari ketika metode ilmiah mengalami kegagalan dalam memecahkan masalah-masalah sosial, bahkan menimbulkan masalah baru. Aplikasi teknologi yang berbasis sains juga berdampak pada pencemaran lingkungan. Sains disisi lain sangat bermanfaat bagi manusia. Namun, juga tidak dapat dipungkiri bahwa sains memiliki dampak yang buruk bagi kehidupan manusia, bahkan dapat mengancam keberlangsungan hidup di muka bumi.
2.3 Kesamaan
Dalam pernyataan yang dikemukakan oleh Plato (424-348 SM) dan Aristoteles (384-322 SM) juga terdapat kesaamaan, dimana keduanya sama-sama mengemukakan bahwa pengetahuan dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu pengetahuan indrawi dan pengetahuan akali. Pengetahuan indrawi adalah hasil keadaan yang sesungguhnya dari sebuah benda, sedangkan menurut Plato dan Aristoteles pengetahuan akali adalah ilmu pengetahuan yang bersifat universal, bukan hal yang berwujud.
3.3 Perbedaan
Pernyataan
yang dipaparkan oleh Plato (424-348 SM) dan Aristoteles (384-322 SM) memiliki
sudut pandang yang berbeda. Menurut Plato alam pada hakikatnya tidak sempurna
atau tidak nyata, hanyalah tiruan/salinan dari realitas absolutnya di dunia ide
di keabadian yang tidak dapat dilihat. Sedangkan, menurut Aristoteles alam
adalah sebuah realita nyata (Mannoia, 1980).
Adapun pernyataan yang dipaparkan oleh Albert Einsten dan Hardy dan Fleer yang terdapat perbedaan pandangan mengenai pengertian sains. Albert Einsten (1879-1955) pernah menyatakan bahwa “sains bermula dari fakta dan berakhir dengan fakta, dan teori menjembatani keduanya” (Suriasumantri, 2009). Sedangkan, menurut Hardy dan Fleer (1996) memahami sains dalam perspektif yang lebih luas. Menurut ahli sains ini, sains mempunyai beberapa pengertian dan fungsi, yang antara adalah 1) Sains sebagai kumpulan pengetahuan, 2) Sains sebagai suatu proses, 3) Sains sebagai kumpulan nilai, dan 4) Sains sebagai suatu cara untuk mengenal dunia.
4.3 Pandangan
Jurnal ini memaparkan dengan jelas dan lengkap mengenai kepastian dan ketidakpastian dalam sains, yang dimulai dari abstrak, pendahuluan, metode, hingga keseimpulan. Namun, kata-kata yang digunakan di dalam jurna bersifat tidak baku, sehingga menyulitkan pembaca untuk memahami isi jurnal. Kemudian, kalimat yang tersusun secara beruntut dan tidak teratur menyulitkan pembaca untuk mencari bagian-bagian yang diinginkan.
5.3 Perbandingan
Dilihat dari metode yang digunakan ada dua bentuk, yaitu epistemologi dan ontologi sains. Tinjauan epistemologi meneropong bagaimana metodologi dalam menemukan pengetahuan dan menjaga temuannya. Sedangkan, tinjauan ontologi mengkaji hakikat realita yang ditelaah dalam sains. Kemudian perbandingan yang dilihat dari sudut pandang teori yang dikemukakan oleh beberapa ahli, seperti Plato dan Aristoteles, serta Albert Einsten dan Hardy dan Fleer.
6.3 Meringkas
Pada
abad ke-17 sains mengalami keberhasilan karena adalah karena sains meninggalkan
pertanyaan mengapa (why) sebagaimana menjadi tumpuan filsafat alam, seraya
memfokuskan kajiannya untuk menjawab pertanyaan bagaimana (how). Pengetahuan
sains adalah tentang dunia inderawi. Banyak kalangan yang berpandangan bahwa
pengetahuan yang berlandaskan pada fakta pengalaman inderawi dan diuji akan membawa
keunggulan bagi sains. Ilmu lain yang tidak menggunakan epistemologi empiris,
standar kebenarannya bukan pada pengalaman inderawi, melainkan berlandaskan
pada sumber-sumber lain seperti wahyu, wibawa, dan intuisi. Filsuf
dan matematikawan René Descartes menggunakan intuisinya dalam menimbang gagasan
mana yang kebenarannya pasti. (Harry
Firman, 2020).
Ketidakpastian
sains berpangkal pada dua sebab, yakni: (1) Ketidakpastian metodologis, yakni
ketidakpastian yang muncul karena cara bagaimana gagasan saintifik terbentuk;
dan (2) Ketidakpastian intrinsik, yakni ketidakpastian yang muncul karena
hakikat dari gagasan saintifik itu sendiri (Mannoia,1980).
Ketidakpastian
metodologis terjadi karena dua sebab, yakni sesatan (error) dan metode konfirmasi.
Sumber ketidakpastian kedua terletak pada proses konfirmasi terhadap teori yang
digagas oleh saintis. Dalam metode ilmiah, deduksi atas suatu teori menghasilkan
prediksi-prediksi, dan selanjutnya prediksi-prediksi tersebut dikonfirmasi
melalui eksperimen dan observasi, serta generalisasi ditarik secara induktif.
Ketidakpastian intrinsik, yaitu ketidakpastian yang berakar pada struktur dan
penggunaan gagasan ilmiah.
7.3 Daftar Pustaka
· Harry Firman
(2020). Kepastian dan Ketidakpastian dalam Sains. Jurnal Filsafat Indonesia,2(1),33-36.https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JFI/article/downloa
d/17549/10529
· https://media.neliti.com/media/publications/175557-ID-biologi-sains-lingkungan-dan-pembelajara.pdf