Nama : Hestiria FujianiNIM : 203010702002
Kelas : B
Dosen : Dr. R. Sally M. Sihombing, S.IP., M.Si
Ilmu Administrasi Negara
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Sebelum
kita membahas mengenai pengertian ilmu, ada baiknya kita memahami asal-usul
dari kata ilmu itu sendiri. Ilmu berasal dari bahasa Arab: ‘alima, ya’lamu, ‘ilman, dengan wazan
fa ‘ila, yaf’alu, yang berarti: mengerti, memahami benar-benar. Dalam bahasa
Inggris disebut science; dari bahasa
latin scientia (pengetahuan)—scire (mengetahui). Di dalam kamus
bahasa Indonesia pengertian ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang
disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan
untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu. (Amsal
Bakhtiar, 2018:12)
A.
Pengertian Ilmu
Kita
sudah mengetahui asal-usul istilah dari ilmu. Selanjutnya, ada beberapa pembahasan
pengertian ilmu menurut para ahli sebagai berikut.
1.
Ilmu adalah suatu aktivitas intelektual (A.F.Calmers), artinya suatu aktivitas
yang menggunakan akal dan pikiran agar dapat bertindak secara efisien. Kegiatan
intelektual tidak hanya menikmati sesuatu yang telah ada.
2.
Ilmu adalah pengetahun yang berasal dari fakta dari lapangan (Anthony O Hear),
artinya bahwa ilmu berisikan bukti-bukti yang nyata yang di dapat secara
langsung dalam sebuah peristiwa.
3.
Ilmu sebagai sekumpulan fakta, suatu cara dalam menjelaskan fenomena yang teramati
(Fred R. Kerlinger).
4.
Ilmu adalah yang empiris, rasional, umum, dan sistematik, dan keempatnya
serentak (Ralph Ross dan Ernest Van Den Haag). (Amsal Bakhtiar, 2018:15)
5.
Ilmu adalah lukisan atau keterangan yang komprehensif dan konsisten tentang
fakta pengalaman dengan istilah yang sederhana (Karl Pearson). (Amsal Bakhtiar,
2018:15)
B.
Klasifikasi Ilmu
Ada
beberapa klasifikasi ilmu, sebagai berikut.
1.
Ilmu sosial, artinya ilmu yang mengkaji tentang perilaku manusia.
2.
Ilmu alam, artinya ilmu yang berhubungan dengan gejala-gejala alam.
3.
Ilmu Humaniora, artinya ilmu pengetahuan yang mempelajari apa yang diciptakan.
C.
Fungsi Ilmu.............”Kerlinger, 1973;7”
1.
Dari sudut pandang statis, artinya ilmu merupakan aktivitas yang memberikan
informasi secara sistematis.
2.
Dari sudut pandang dinamis, artinya ilmu pengetahuan yang dlihat sekedar dari
sebuah aktivitas orang yang berilmu, yang berkaitan dengan sebuah penelitian.
D.
Sifat Kebenaran
Menurut
Abbas Hamami Mintaredja (1983) kata “kebenaran” dapat digunakan sebagai suatu
kata benda yang konkret maupun abstrak. Berbagai kebenaran dalam Tim Dosen
Filsafat UGM Yogyakarta (1996) dibedakan menjadi tiga hal, yakni sebagai
berikut. (Surajiyo, 2018:103)
1.
Kebenaran berkaitan dengan kualitas pengetahuan.
2.
Kebenaran dikaitkan dengan sifat atau karakteristik dari bagaimana cara atau
dengan alat apakah seseorang membangun pengetahuannya.
3.
Kebenaran yang dikaitkan atas ketergantungan terjadinya pengetahuan.
Sifat
kebenaran dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1.
Kebenaran yang bersifat mutlak, artinya kebenaran yang datang dari Tuhan atau
suatu kepercayaan yang telah dianut manusia secara turun-temurun.
2.
Kebenaran yang bersifat relatif, artinya kebenaran yang berasal dari sudut
pandang manusia itu sendiri.
E.
Sumber Kebenaran Ilmu
Ada beberapa pendapat
tentang sumber pengetahuan sebagai berikut. (Amsal Bakhtiar, 2018 : 98-109)
1. Empirisme artinya
manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalaman.
2. Rasionalisme
menyatakan akal adalah dasar kepastian pengetahuan.
3. Intuisi bersifat
analisis, menyeluruh, mutlak, dan tanpa dibantu oleh penggambaran simbolis.
4. Wahyu adalah
pengetahuan yang disampaikan ole Allah kepada manusia lewat perantaraan para
nabi.
Tugas Mingguan Pertemuan ke-2
1. Perbedaan Ilmu yang Bebas Nilai dan Ilmu yang Tidak Bebas Nilai
Ilmu yang bebas nilai dan ilmu yang tidak bebas nilai memiliki perbedaan yang signifikan. Ilmu bebas nilai sendiri dalam bahasa Inggris biasa disebut dengan “value free” berarti ilmu yang bersifat bebas, independen atau otonom (berdiri sendiri). Sedangkan, ilmu yang tidak bebas nilai dalam bahasa Inggris disebut dengan “value bond” yang memandang ilmu itu selalu berkaitan dengan nilai dan dikembangkan dalam aspek nilai.
Adapun perbedaan ilmu yang bebas nilai dan ilmu yang tidak bebas nilai menurut para ahli sebagai berikut. Ilmu yang bebas nilai menurut Josep Situmorang (Surajiyo, 2018 : 149) merupakantuntutan terhadap setiap kegiatan ilmiah agar didasarkan kepada hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri. Ada tiga faktor sebagai indikator bahwa ilmu itu bebas nilai sebagai berikut. Pertama, ilmu harus bebas dari berbagai pengandaian, yakni bebas dari faktor eksternal (faktor politik, ideologi, agama, budaya, dan unsur kemasyarakatan lainnya). Kedua, perlu adanya kebebasan ilmiah agar otonomi ilmu terjamin. Ketiga, penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis yang biasa dituding menghambat kemajuan ilmu, karena nilai etis bersifat universal. Disisi lain dalam ilmu yang tidak bebas nilai ada seorang ahli filsuf bernama Jurgen Habermas yang berpendapat bahwa ilmu bahkan ilmu alam sekalipun tidaklah mungkin bebas nilai karena pengembangan setiap ilmu selalu ada kepentingan-kepentingan. Pendirian ini diwarisi Hebermas dari pandangan Husserl yang melihat fakta dan objek alam diperlukan oleh pengetahuan sebagai kenyataan yang sudah jadi (Surajiyo, 2018 : 150). Menurut Hebermas pengetahuan berupa ilmu-ilmu alam yang bekerja secara empiris-analitis. Ilmu-ilmu ini menyelidiki gejala-gejala alam secara empiris dan meyajikan hasil penyelidikan itu untuk kepentingan-kepentingan manusia. Pengetahuan yang kedua mempunyai pola yang sangat berlainan, sebab tidak menyelidiki sesuatu dan tidak menghasilkan sesuatu, melainkan memahami manusia sebagai sesamanya, Hebermas juga menegaskan lebih lanjut bahwa ilmu pengetahuan alam terbentuk berdasarkan kepentingan-kepentingan teknis.
Perbedaan antara ilmu yang bebas nilai dan ilmu yang tidak bebas nilai juga dapat dilihat dari beberapa kasus yang dipaparkan sebagai berikut. Ada beberapa kasus di dalam ilmu yang bebas nilai sebagai berikut. Pertama, teknologi bio energi dengan penangkapan dan penyimpanan karbon
di dalam sebuah teknologi, dimana pohon dan tanaman dimanfaatkan dalam sistem pembangkit tenaga listrik untuk menyimpan karbon. Akan tetapi, teknologi ini secara tak langsung memproduksi emisi negatif, yang bisa menghapuskan gas CO2 dari atmosfer. Kedua, ketika seorang ahli jantung
ingin meneliti tentang jantung manusia. Ada suatu kendala apabila dokter tersebut meneliti jantung selain jantung manusia, seperti jantung simpanse pastinya hasil berbeda dengan jantung manusia. Namun, ada yang tidak menyetujui karena alasan rasa kemanusiaan. Ketiga, eksploitasi sumber
daya alam dibenarkan dalam ilmu bebas nilai karena sangat bermanfaat bagi kepentingan ilmu itu
sendiri, namun semakin lama dapat merugikan lingkungan. Keempat, teknologi air condition (AC)
memiliki pengaruh dalam pemanasan global dan pelebaran lapisan ozon. AC mampu menghisap uap air (kelembapan) dari udara sekitar. Bahkan kelembapan pada kulit pun juga dapat ditarik oleh AC. Itu sebabnya kulit dapat menjadi kering, mudah iritasi, dan keriput. Kelima, bayi tabung adalah bayi yang diperoleh melalui proses pembuahan yang dilakukan diluar rahim sehingga terjadinya embrio (tidak secara alamiah, melainkan dengan bantuan teknologi kedokteran. Dari kasus yang dipaparkan tersebut, dapat disimpulkan bahwa semua ilmu yang dibuat oleh para ilmuawan, semata-mata untuk pengembangan teknologi tanpa memperdulikan dampak yang ditimbulkan bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Adapun beberapa kasus di dalam ilmu yang tidak bebas nilai biasanya berkaitan dengan bidang sosial. Menurut Nursid Sumaatmadja, menyatakan bahwa ilmu sosial adalah cabang ilmu pengetahun yang mempelajari tingkah laku manusia baik secara perorangan maupun kelompok. Jika seorang ahli bidang sosial mengatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial maka kajian yang digunakan tidak menyebar ke kajian lainnya. Dalam bidang sosial terdapat nilai-nilai sosial
yang berarti konsep abstrak yang diyakini baik, bernilai, bermanfaat bagi kehidupan sosial sehingga menjadi petunjuk tingkah laku seseorang. Ada beberapa nilai yang digunakan dalam kehidupan manusia. Pertama, nilai yang dianut merupakan hasil dari proses sosialisasi sejak individu lahir. Misal, makan dengan tangan kanan. Kedua, nilai ditransmisikan melalui pendidikan dan interaksi
sosial contohnya, menepati janji. Ketiga, nilai dapat berperan sebagai ukuran tingkat
kemanusiawian tindakan seseorang. Misal seorang oknum polisi yang melakukan tindak kekerasan pada demonstran ketika aksi damai. Keempat, nilai tergantung konteks sosial. Misal di suatu negara, seorang perempuan yang kerja hingga larut malam menjadi bahan gosip, sedangkan di negara lain tidak.
Dapat disimpulkan didalam ilmu bebas nilai antara ilmu dan nilai tidak memiliki keterkaitan,
karena keduanya berdiri sendiri. Di dalam ilmu bebas nilai memiliki pandangan bahwa nilai hanya dapat menghambat perkembangan ilmu. Sedangkan, dalam ilmu tidak bebas nilai selalu memperhatikan aspek nilai di dalam kehidupan. Sehingga di dalam pengembangannya ilmu tidak bebas nilai tidak terlepas dari kepentingan-kepentingan politik, religius, ekonomi dan unsur kemasyarakatan lainnya.
2. Apakah manusia yang tidak mendapat Pendidikan Tinggi dapat disebut sebagai manusia
yang berilmu?
Menurut pandangan beberapa orang, manusia yang tidak mendapat pendidikan tinggi dapat
disebut sebagai manusia yang berilmu. Karena indikator sebuah ilmu tidak dilihat dari tinggi atau rendahnya sebuah pendidikan yang ditempuh oleh manusia masih banyak media selain melanjutkankejenjang pendidikan yang lebih tinggi manusia tetap dapat memperoleh ilmu, contohnya melalui
kitab suci setiap keyakinan masing-masing orang dan pengajaran yang diberikan oleh orang-orang sekitar dalam bentuk pengalaman hidup. Namun, ada juga yang berpandangan bahwa manusia yang tidak mendapat pendidikan tinggi tidak dapat disebut sebagai manusia yang berilmu. Karena pada zaman yang serba modern ini, ilmu pengetahuan sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, seolah-olah manusia saat ini tidak dapat hidup tanpa ilmu pengetahuan. Di dalam kehidupan
sederhana sekarang pun memerlukan ilmu, misalnya dalam memenuhi kebutuhan pangan. Oleh karena itu, manusia dituntut untuk menempuh perguruan tinggi termasuk di negara Indonesia.Namun, manusia yang menempuh pendidikan tinggi di Indonesia masih terbilang rendah, menurut Staf Khusus Wakil Presiden Bidang Reformasi Birokrasi dan Pendidikan Mohamad Nasir, mengungkapkan pada data tahun 2019 Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi di Indonesia baru mencapai 34,58 persen. Disisi lain, Pemerintah selalu berusaha agar pendidikan tinggi di Indonesia menjadi rata.
Kesimpulan dari dalam dua lingkup perspektif masyarakat tersebut, saya lebih menganggap bahwa manusia yang tidak mendapat pendidikan tinggi tidak dapat disebut sebagai orang yang berilmu. Karena pada zaman ini, ilmu sangat dibutuhkan bagi kehidupan. Sudut pandang manusia sekarang ini harus maju, mengingat saingan-saingan dari luar daerah maupun luar negara yang banyak. Inilah yang harus bisa menjadi salah satu motivasi untuk mendapatkan pendidikan tinggi, selain berguna bagi kehidupan, juga berguna bagi negara Indonesia.
Sumber :
Surajiyo. 2018. Suatu Pengantar Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta : PT.
Bumi Aksara.
https://pamungkasbirawa.wordpress.com/2011/01/30/ilmu-terikat-nilai/